Cari
  • Keranjang Belanja Anda masih kosong... ^_^

UPACARA ADAT YANG MASIH ADA DI JOGJA

Upacara Adat - Yogyakarta adalah salah satu daerah di Indonesia yang masih kaya akan budaya adatnya. Upacara adat di kota ini masih begitu kental

UPACARA ADAT YANG MASIH ADA DI JOGJA

Upacara Adat - Yogyakarta adalah salah satu daerah di Indonesia yang masih kaya akan budaya adatnya. Upacara adat di kota ini masih begitu kental dilakukan oleh masyarakat dan dilakukannya secara turun temurun. Yogyakarta sendiri terkenal sebagai kota Budaya, dan hingga saat ini masih sangat kuat untuk melestarikan kekayaan budaya. Berikut ini adalah beberapa upacara adat yang masih rutin dilakukan di Yogyakarta :

Upacara Bekakak (Saparan)

Upacara Bekakak ini berada di Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta. Upacara ini disebut juga dengan Saparan dikarenakan pelaksanaannya diadakan pada bulan sapar. Asal muasal upacara ini dulunya atas perintah P. Mangkubumi. Saparan memiliki arti yakni upacara selamatan yang diadakan setiap bulan Sapar. Sedangkan untuk bekakak konon memiliki arti yakni korban penyembelihan manusia. Namun untuk untuk saat ini bekakak saparan ini hanya tiruan saja yang berwujud boneka pengantin. Boneka tersebut dengan posisi duduk bersila. Boneka pengantin ini terbuat dari tepung ketan. Bekakak laki-laki dan perempuan yakni pengantin pria dan wanita pada umumnya. Ada dua pasang pengantin bekakak yang pertama sepasang bergaya Solo dan satunya lagi sepasang bergaya Yogyakarta. 

Penyelenggaraan upacara ini bertujuan untuk menghormati arwah dari Kyai dan Nyai Wirosuto sekeluarga. Beliau merupakan abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono 1. Beliau juga sebagai pembawa payung kebesaran setiap Sri Sultan Hamengku Buwono 1. 

Berikut ini adalah urutan arakan upacara saparan bekakak :

  • Tahap Midodareni Bekakak.
  • Tahap Kirap.
  • Tahap Penyembelihan Pengantin Bekakak.
  • Tahap Sugengan Ageng.

Waktu pelaksanaan upacara bekakak ini sudah ditetapkan yakni pada hari Jumat setiap bulan sapar. Untuk tanggalnya kisaran tanggal 10 sampai tanggal 20 dan dilaksanakan mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. 

Upacara Bekakak

Upacara Nguras Enceh

Upacara Nguras Enceh ini adalah merupakan upacara adat yang dimana dilakukan di Makam raja-raja Mataram Imogiri. Tepatnya di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, rumit di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Upacara ini digelar setiap Jumat Kliwon dan saat bulan Suro. Nguras sendiri mempunyai arti yakni membersihkan sedangkan Enceh mempunyai arti gentong. Terdapat empat enceh atau gentong yang dikuras saat upacara berlangsung. Nama-nama enceh tersebut adalah :

  1. Gentong Kyai Danumaya berasal dari Kerajaan di Palembang
  2. Kyai Mendung berasal dari Kerajaan Ngerum di Turki
  3. Kyai Danumurti berasal dari Kerajaan Aceh
  4. Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam Thailand

Pada upacara Nguras Enceh ini dimulai dengan pembacaan doa serta shalawat. Setelah itu dilanjut dengan prosesi bakar kemenyan yang dilakukan oleh para juru kunci. Setelah pembacaan doa selesai, maka kerabat Keraton serta para abdi dalem akan mengalungkan untaian bunga dan meletakan sesaji pada gentong yang berada di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri. Ritual ini juga diikuti dengan pengisian gentong yang berisikan air dengan menggunakan gayung dari batok kelapa dan tangkai bambu yang disebut siwur. Para rombongan yang membawa siwur lalu berjalan menuju gentong yang malam sebelumnya sudah melalui ritual pembersihan. Warga kemudian diperbolehkan meminta air yang dianggap membawa berkah tersebut namun setelah air pada keempat gentong terisi penuh.

Upacara Nguras Enceh rutin dilakukan setelah sepeninggal Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sultan Agung Hanyokrokusumo sendiri merupakan raja yang sangat disegani. Gentong-gentong tersebut merupakan penghormatan pada kerajaan-kerajaan yang memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Mataram Islam pada masa itu. Tradisi ini juga mempunyai makna sebagai upaya membersihkan diri dari berbagai hal kotor.

Upacara Nguras Enceh

Upacara Labuhan

Upacara labuhan ini dilakukan setiap tahunnya oleh Kraton Yogyakarta. Upacara ini mempunyai arti yakni sebagai aktivitas memberi sesaji kepada roh halus  yang menguasai suatu tempat tempat dan memiliki tujuan untuk keselamatan Sri Sultan, Keraton dan rakyat Yogyakarta sendiri. Untuk cara pemberian sesajinya sendiri tergantung pada lokasi upacara Labuhannya. Awal mulai upacara Labuhan ini yakni setelah Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono 1 pada tahun 1755 lalu dan dilakukan hingga saat ini. Berikut upacara labuhan di Parangkusumo dan di Gunung Merapi :

  • Labuhan Parangkusumo

Parangkusumo sendiri berada di pesisir selatan Yogyakarta, tepatnya di wilayah Kabupaten Bantul. Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih oleh Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dilakukanya supaya beliau bisa menjadi pemimpin yang baik untuk masyarakat. Menurut legendanya sendiri, bertapanya Panembahan Senopati  itu yakni bertemu dengan sang penguasa laut selatan atau yang biasa di sebut Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuannya, Kanjeng Ratu Kidul akan membantu Panembahan Senopati sehingga pada akhirnya Panembahan Senopati berhasil membentuk kerajaan. Kerajaan tersebut adalah Mataram dan Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang mendasari dipilihnya Parangkusumo sebagai salah satu lokasi labuhan.

Upacara Adat Labuhan Parangkusomo

  • Labuhan Merapi

Gunung Merapi ini berada di wilayah Kabupaten Sleman yang tepat berada di ujung utara wilayah DIY. Gunung Merapi ini menjadi salah satu lokasi dikarenakan dianggap berperan dalam sejarah berdirinya kerajaan Mataram. Lokasi labuhan ini berada di Gunung Merapi di bagian kendhit, lereng tengah Gunung Merapi di sisi selatan. Abdi dalem akan menempatkan benda-benda labuhan di dalam peti, juru kunci akan mengambil peti lama yang digunakan upacara Labuhan sebelumnya yang sudah kosong, lalu digantikan dengan peti baru yang berisi benda-benda labuhan. Setelahnya sang juru kunci akan menyerahkan benda-benda itu kepada para danyang sambil diberi kalimat pengantar.

Upacara Adat Labuhan Gunung Merapi

Itulah tadi upacara adat yang masih ada di Jogja. Langsung saja agendakan liburan ke Yogyakarta dan pesan tempat menginap dengan memilih homestay di Jogja terbaik. Untuk menambah kesan liburan Anda disini, abadikan momen-momen Anda bersama keluarga terdekat Anda. Selamat berlibur.

  • 9 Juni 2020
  • 304 kali

Tags

Comments - 0

Belum Ada Komentar Mengenai Post Ini... Jadilah Yang Pertama... ^_^

Add Comment

Menyimpan

Search In Blog

Tentang Penulis

WHouse Indonesia Solusi Cepat Booking Homestay

Pesan Homestay di Jogja murah dan mudah di mana lagi kalau bukan di WHouse Indonesia.

Trending Post

Air Terjun Seribu Batu : Daya Tarik, Fasilitas, Rute, Jam Buka dan Harga Tiket

Homestay Jogja – Air Terjun Seribu Batu adalah sebuah wisata air berupa curug atau air terjun. Yogyakarta sendiri tidak hanya dikenal dengan...

2 Mar 2019

SOTO LEGENDARIS DI JOGJA

Soto Legendaris di Jogja - Soto memang selalu menjadi favorit semua orang untuk sarapan makan pagi, siang ataupun malam. Soto ini cocok dimakan kapan saja

27 Mei 2020

Sate Klathak Pak Pong: Keunikan, Fasilitas, Lokasi, Menu Utama dan Harga

Sate Klathak Pak Pong - Menu kuliner sate sudah populer di mata para masyarakat. Banyak kalangan yang menggemari menu daging sate mulai dari an...

10 Apr 2019

Our Instagram

Categories